Recent Posts

Join The Community

Premium WordPress Themes

Search

Saturday, June 1, 2013

Seni untuk Seni menurut islam

 
           Pada awal abad 19 ditengarai munculnya gerakan seni untuk seni (the art for the art) . Di Perancis gerakan ini didukung oleh Flaubert, Gauthier, dan Baudelaire. Di rusia oleh Pushkein. Di Inggris oleh Walter Patter Oscar Wilde. Di Amerika oleh sastrawan Allan Poe. Aliran ini berakar dari Romantisime Romawi yang dapat ditemukan akar-akarnya pada Friedrich  Schlegel dan Henrich Heine (Syarif, 1984 : 114).

       Mereka meyakini slogan “Seni Untuk Seni”. Dengan slogan ini dimaksudkan bahwa keindahan sebagai produk seni, adalah kualitas seni yang khusus. Ia adalah nilai dasar yang absolut, menyeluruh dan tertinggi. Nilai-nilai lain seperti kebenaran dan kebaikan berada di bawahnya atau malah sama sekali tidak relefan. Di dalam panggung kehidupan, seni memiliki daerahnya sendiri, mempunyai tujuannya sendiri, tidak mempunyai misi yang harus dipenuhi kecuali membangkitkan jiwa sang kontemprator untuk menciptakan sensasi-sensasi keindahan tertinggi. Moralitas, instruksi, uang, dan populalaritas tidak boleh menjadi tujuan seni, tetapi malah merendahkan nilai artistik sesuatu seni (Syarif, l984 : 115). Buat mereka, seni adalah otonom tidak bergantung pada yang di luar seni.

       Gauthier, utamanya, ia mengatakan bahwa seni bukan suatu cara, tetapi tujuan. Seorang seniman yang mengejar tujuan lain di luar keindahan adalah  bukan seniman (Syarif, l984 : 115). Sementara itu, Orcar Wilde memisahkan secara penuh antara lingkungan etika dan seni( Syarif, l984 : 1). Sebuah patung naturalis telanjang bulat yang dipasang di pusat keramaian, jia ini dipandang indah, tentu dilakukan dengan tanpa mermpertimbankan nilai etis. Jika peristiwa ini benar-benar ada, pasti menjadi heboh. Tokoh agama dan kaum moralis lainnya pasti memprotesnya, karena dipandang bertentangan dengan nilai moral. Beberapa tahun yang lalu, kasus pembuatan gambar-gambar bugil Dewi Sukarno Putri pada suatu majalah menjadi heboh. Tabloid yang pernah muncul penaka kecambah, beberapa diantaranya mengintrodusir gambar-gambar bugil atau hampir bugil atau secara umum seronok pada halaman sampulnya mendapat reaksi keras dari tokoh maupun lembaga-lembaga penjunjung tinggi moralitas. Goyang ngebor Inul Daratista, goyang patah-patah Anisa bahar, Goyang gergaji dari Dewi perssik dalam seni panggung menjadi heboh dan mendapat protes keras dari pendukung kaum moralis yang anti pornografi dan pornoaks atau sekurang-kurang erotisme. Karya ‘Taman Eden” yang menampilkan pose bugil Anjasmoro dan kawan-kawannya tidak luput dari hujatan keras dari kaum pendukung seni untuk sesuatu di luar seni.  Mulai Maret 2008 Pemerintah Republik tercinta ini (Indonesia), demi menjaga supaya  generasi mudatidak rusak parah moralitasnya menutup situs pornografi maupun pornoaksi dalam dunia internet, adalah sikap dan gerak nyata anti seboyan “seni untuk seni”

      Seni untuk seni yang produksi seninya dinilai seronok oleh masyarakat tidak akan menjadi masalah manakala semua orang mendukung paham itu. Mungkinkah ini bisa terjadi ? rasanya tidak mungkin atau  malah pasti tidak mungkin. Manusia tidak bisa diseragamkan dalam paham seni. Justru kebanyakan manusia tidak sadar akan dunia seni atau malah tidak menyadarkan diri akan dunia seni. Bagi mereka, sebagian berpendirian bahwa yang penting tuntutan ekonomi dasar (pangan, sandang, papan). Seni bagi kebanyakan orang adalah komoditas mewah. Orang-orang semacam ini biasanya dalam penghayatan agama juga terbatas pada aturan-aturan pokok kehidupan agama seperti pelaksanaan ritus dalam Islam. Agama, dalam kasus Islam dilihat melalui tolok ukur wajib-haram, sunnah-makruh, dosa-memperoleh pahala, ketika melihat patung naturalis bugil di pusat keramaian, tidak dipandang sebagai karya seni yang indah, melainkan dihukumi haram, dosa, dan membinatangkan manusia.

       Jadi, sebenarnya doktrin seni untuk seni bukanlah sesuatu yang ideal, justru ditentukan oleh persoalan-persoalan eksternal non seni, seperti etika jika harus dihadapkan dengan etika sebagai lawan seni.  Seni menjadi sesuatu yang menentang kodrat Ilahi. Tujuan utama keutusan para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah manusia justru mengenai etika.  Nabi dan Rasul terakhir Islam adalah Muhammad saw  (570:622) mengaku bahwa tugas pokoknya sebagaimana ia katakan adalah sebagai berikut: . . . بعثت لإتمم حسن  الاخلاق (رواه الليس عن مالك بن انس) ( Aku diutus hanyalah utuk menyempurnakan kebaikan akhlak. H.R. al-Laisi dari Malik bin Anas). Seni menjadi bagian integral dalam risalah kenabian Muhammadsaw.

       Suatu hal lain menjadi kelemahan doktrin seni untuk seni adalah menyaksikan alam semesta, yang menurut pandangan iman adalah refleksi karya Agung Sang Maha Pencipta, dipandang  sebagai sesuatu yang statis dan tidak bermakna karena lepas dari sensasi-sensai keindahan dari sang seniman. Flaubert si pendukung mazhab ini amat membenci kenyataan. Keindahan pegunungan Alpen tidak menimbulkan daya tarik baginya. Baudelaire menatap alam dalam penampakan keaslinya, ia pandang sebagai sesuatu yang monoton dan menjemukan. Menurutnya, seni harus berhubungan nilai absolut dan tertingi yaitu dipakai untuk menggantikan filsafat dan agama (Syarif, l984 : 116). Kalau sudah sampai tahap begini, seniman tidak bisa menjadi filosof dan agamawan, demikian sebaliknya. Tidak pula ia menjadi seniman yang berdoktrin “Seni untuk seni” secara setengah-setengah dan menjadi agamawan atau filosof setengah-setengah. Menjadi agamawan setengah-setengah adalah fasiq yang secara praktis adalah rusak. Bahkan, arti fasiq semula adalah sesuatu yang keluar dari kulitnya atau keluar dari perlindungan. Fasiq dalam arti agama berarti keluar dari ketaatannya pada Aallah (Anis,II : 687). Kalau agama seniman yang menjunjung tinggi doktrin “seni untuk seni” dan ia amat kuat dukungannya, sementara ia adalah seorang agamawan, boleh jadi ia kurang kesadarannya terhadap agamanya. Dalam kasus Islam, agama ini menuntut kepada pemeluknya supaya masuk ke dalam Islam secara total dan menyheluruh. Demikian seruan Alquran:

ياليهاالذين أمنوا ادخلوا فى السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين

(Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu. Q.S. al-Baqarah/2 : 228)

          Dalam ayat ini, dapat dipahami bahwa ketika seseorang memeluk agama Islam secara tidak totalitas, sisanya adalah pengikut langkah syetan. Dengan demikian seniman yang menjunjung tinggi doktrin “seni untuk seni” hingga tahap menepikan filsafat dan agama menurut pandangan Islam seni itu adalah seni syetan. Karen itu sebagai seorang agamawan – masih dalam taraf awam, dan belum mencapai tingkatan ulama – saya menghimbau kalau di tanah air ini ada seniman yang bermazhab secara berat “seni untuk seni” dan mereka ini memeluk agama, khususnya Islam, hendaklah anda bertaubat dan pindah kepada paham seni yang fungsionalis-religius.

      Seandainya harus dicari manfaatnya dari doktrin seni untuk seni sebenarnya masih ada, tetapi amat terbatas dan sifatnya terapiutik yang dalam hasanah Froedian termasuk orang-orang gila yang asyik dengan dunianya sendiri dan tidak hirau dengan dunia sekelingnya. Segi positif yang lain adalah karya ciptaannya selalu fres, orisinal, dan kreatif karena anti naturalisme.  .

0 comments:

Post a Comment