Test Footer 2

Showing posts with label seni. Show all posts
Showing posts with label seni. Show all posts

Tuesday, July 23, 2013

SEJARAH SENI LUKIS DI INDONESIA

Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan".
Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesia sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

APRESIASI KARYA SENI RUPA MODERN/KONTEMPORER INDONESIA

Karya seni rupa modern/kontemporer di Indonesia beragam bentuk, jenis, dan corak, antara lain berupa karya seni rupa dua dimensi: seni lukis, grafis, batik, dll; tiga dimensi: seni patung, keramik, seni instalasi, dll. Dengan kreativitas masing-masing, para seniman Indonesia menciptakan suatu karya seni rupa sebagai perwujudan ekspresi jiwanya.
Kreativitas para seniman Indonesia telah meramaikan perkembangan seni rupa di Indonesia. Munculnya berbagai karya seni rupa menyebabkan terjadinya komunikasi apresiasi untuk memahami makna yang tersirat di baik karya-karya para seniman Indonesia tersebut. Apresiasi adalah penghargaan atau penilaian. Apresiasi seni rupa adalah kegiatan dalam menilai atau memberi penghargaan terhadap karya-karya seni rupa. Apresiasi terhadap karya-karya seni rupa dapat ditunjukkan dengan sikap empati berupa ungkapan kata-kata atau tanggapan secara lisan/tertulis.
Beberapa seniman mengkomunikasikan pesan-pesan melalui hasil karyanya dengan cara vulgar dan mudah dipahami, akan tetapi ada pula yang mengkomunikasikan karyanya melalui simbol-simbol yang mengandung makna tertentu. Kegiatan apresiasi dapat digolongkan menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1.     Apresiasi simpatik adalah merasakan tingkat keindahan suatu karya berdasarkan pengamatan (kasat mata), seperti suka atau tidak suka.
2.     Apresiasi empatik/estetik adalah merasakan secara mendalam nilai estetik yang tersirat dalam suatu karya, seperti ada perasaan kagum atau terharu.

3.     Apresiasi kritis adalah apresiasi yang disertai analisis terhadap suatu karya dengan mempertimbangkan gagasan, teknik, unsur-unsur rupa, dan kaidah-kaidah komposisi seni rupa.

PERKEMBANGAN SENI KONTEMPORER INDONESIA


Dalam seni rupa Indonesia, istilah kontemporer muncul awal 70-an, ketika Gregorius Sidharta menggunakan istilah kontemporer untuk menamai pameran seni patung pada waktu itu. Suwarno Wisetrotomo, seorang pengamat seni rupa, berpendapat bahwa seni rupa kontemporer pada konsep dasar adalah upaya pembebasan dari kontrak-kontrak penilaian yang sudah baku atau mungkin dianggap usang. Konsep modernisasi telah merambah semua bidang seni ke arah kontemporer ini. Paling menyolok terlihat di bidang tari dan seni lukis. Seni tari tradisional mulai tersisih dari acara-acara televisi dan hanya ada di acara yang bersifat upacara atau seremonial saja.
Seperti diungkapkan Humas Pasar Tari Kontemporer di Pusat Latihan Tari (PLT) Sanggar Laksamana Pekanbaru yang tidak hanya diminati para koreografer tari dalam negeri tetapi juga koreografer tari asing yang berasal dari luar negeri. Sebanyak 18 koreografer tari baik dari dalam maupun luar negeri menyatakan siap unjuk kebolehan dalam pasar tari kontemporer tersebut. "Para koreografer sudah tiba di Pekanbaru, mereka menyatakan siap unjuk kebolehan dalam pasar tari itu," ujar Humas Pasar Tari Kontemporer, Yoserizal Zen di Pekanbaru.
Lukisan kontemporer semakin melejit seiring dengan meningkatnya konsep hunian minimalis, terutama di kota-kota besar. Seperti diungkapkan oleh seniman lukis kontemporer Saptoadi Nugroho dari galeri Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta, "Lukisan kontemporer semakin diminati seiring dengan merebaknya konsep perumahan minimalis terutama di kota-kota besar. Akan sulit diterima bila kita memasang lukisan pemandangan, misalnya sedangkan interior ruangannya berkonsep modern."
Hal yang senada diungkap oleh kolektor lukisan kontemporer, "Saya mengoleksi lukisan karena mencintai karya seni. Kalaupun nilainya naik, itu bonus," kata Oei Hong Djien, kolektor dan kurator lukisan ternama dari Magelang. Begitu juga Biantoro Santoso, kolektor lukisan sekaligus pemilik Nadi Gallery. "Saya membeli karena saya suka. Walaupun harganya tidak naik, tidak masalah," timpalnya.
Oei dan Biantoro tak pernah menjual koleksinya. Oei memilih untuk memajang lebih dari 1.000 bingkai lukisannya di museum pribadinya. Karya-karya besar dari Affandi, Basuki Abdullah, Lee Man Fong, Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Widayat terpampang di sana bersama karya-karya pelukis muda. Pendapat lain dari Yustiono, staf pengajar FSRD ITB, melihat bahwa seni rupa kontemporer di Indonesia tidak lepas dari pecahnya isu posmodernisme (akhir 1993 dan awal 1994), yang menyulut perdebatan dan perbincangan luas baik di seminar-seminar maupun di media massa pada waktu itu.

kesenian berjanji

Arus kesenian modern menggerus seni syair yang pernah berkembang di kalangan umat Islam di Tangerang Banten. Salah satunya adalah pelantunan syair Shalawat Barzanji atau Marhamah. Meski masih eksis di kalangan masyarakat, namun lantunan pujian pada Nabi Muhammad ini sangat jarang terdengar kecuali saat ritual keagamaan.

"Mulai tahun ini kami menyelenggarakan ekskul Marhamah sebagai upaya melestarikan kebudayaan Islam. Sama halnya dengan pengadaan ekskul Silat dalam rangka membumikan budaya nasional di kalangan pelajar," ujar HM Furqon, Kepala Madrasah Tsanawiyah, Sabtu 20 Juli kemarin.

Syair shalawat (puji-pujian pada Nabi Muhammad) yang ditulis Sekh Barjanji, katanya, sejak dulu dimainkan para orang tua pada peringatan maulid nabi, ritual mencukur rambut bayi, dan mengiringi prosesi sunatan anak yang menjelang akil baliq (remaja).

"Sekarang marhamah hanya dilakukan pada waktu mencukur bayi berumur 40 hari. Masa dulu bengkong atau tukang sunat saat mengkhitan anak dikelilingi orang tua sambil melantunkan Marhamah. Sekarang hal itu sudah jarang terdengar," jelasnya.

Syair Marhamah, tambahnya, menceritakan riwayat dan keluhuran budi Nabi Muhammad SAW yang patut ditiru terkait pengembangan pendidikan yang berbasis karakter (budi pekerti). Kesenian Islam ini awalnya dilakukan saat warga Madinah menyambut Nabi hijrah ke Kota Mekkah.

"Di Indonesia, Marhamah dikembangkan para ulama yang menyiarkan agama Islam. Pada abad ke-16 di Banten, Sultan Maulana Hasanuddin memadukannya dengan kesenian debus agar masyarakat tertarik memeluk agama Islam. Sekarang adakalanya Marhamah dilantunkan dengan iringan rebana," pungkasnya. (Edy Syahputra Tanjung/Mar)

Monday, July 22, 2013

Seni Mencintai


     Cinta adalah seni. Erich Fromm menyatakan bahwa sama seperti hidup adalah sebuah seni maka cinta adalah sebuah seni. Sama seperti berbagai seni seperti menari, melukis, menyanyi, dan sebagainya maka untuk menguasai seni tersebut kita juga harus belajar mencintai.

    Seni mencintai dapat dibagi ke dalam dua bagian yakni teori cinta dan praktik cinta. Jika seseorang ingin menjadi penyanyi yang terkenal maka pertama-tama ia harus mempelajari lebih dulu apa yang dimaksud dengan melodi dan harmoni. Tanpa melodi dan harmoni maka nyanyian kita akan menjadi suara yang menyakitkan kedengarannya di telinga. Teori yang baik juga harus dilengkapi dengan praktik yang terampil. Untuk dapat menyanyi seseorang harus terampil mengatur nafas dengan baik. Setelah itu mungkin barulah orang tersebut dapat menyanyi dengan baik.

     Fromm menyatakan bahwa teori tentang cinta harus dimulai dengan teori tentang manusia. Manusia bukanlah binatang, maka keinginan untuk mencintai pastilah bukan sekedar dorongan naluriah semata. Manusia memiliki emosi dan rasio dalam menentukan apa yang dirasakan dan bagaimana mewujudkan emosi tersebut.

     Sejak kecil kita dapat merasakan emosi cinta dan perasaaan itu berkembang dalam kehidupan kita. Emosi cinta tersebut berkembang dalam konteks yang berbeda misalnya cinta ibu, cinta diri sendiri, cinta sesama, dan cinta kepada Tuhan. Emosi cinta tersebut juga berkembang dalam dimensi yang berbeda-beda. Kita dapat mengenali mana emosi cinta yang lemah dan mana emosi cinta yang kuat.

     Mengenali emosi cinta saja belum dapat membuat kita mampu mencintai karena kita seringkali salah dalam mengartikan emosi cinta kita. Seorang anak bisa merasa orangtuanya tidak mencintainya ketika memaksa dirinya untuk pergi ke dokter gigi yang ia sangat benci. Padahal orangtuanya melakukan hal tersebut dengan penuh cinta supaya anaknya dapat segera sembuh. Seorang pria dapat merasakan emosi cinta yang kuat terhadap seorang wanita. Sementara wanita tersebut sama sekali tidak pernah merasakan emosi yang sama terhadap pria tersebut.

      Manusia membutuhkan rasio untuk mencintai. Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya. Kesadaran ini memberikan kita pemahaman akan siapa diri kita dan siapa orang yang kita cintai. Kesadaran ini juga memperjelas akan apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan saat kita mencintai. Kesadaran ini juga mendorong kita untuk mencapai apa yang kita inginkan dan bagaimana mencapainya.

      Kesadaran akan cinta membuat manusia bukan hanya mampu jatuh cinta (falling for love) melainkan juga mampu untuk memperjuangkan cinta (standing for love). Ketika kita merasa mencintai kita bisa sangat tenggelam di dalam cinta tersebut. Kondisi ini seringkali membuat kita tidak sadar akan diri dan terbawa dalam arus yang begitu kuat yang bisa saja menenggelamkan seluruh kesadaran kita. Sebaliknya cinta juga harus diperjuangkan. Jatuh cinta itu mudah, tapi cinta yang sejati harus diperjuangkan. Kesadaran kita akan cinta harusnya membuat kita memiliki pengetahuan tentang siapa yang kita cintai, penghargaan terhadap orang yang kita cintai dan terlebih lagi tanggung jawab terhadap dia yang kita cintai.

      Emosi cinta dan rasio cinta ini harus terjadi di saat kita siap memulai hubungan dengan seseorang. Banyak pasangan yang memulai hubungan mereka karena sedang diliputi emosi cinta yang begitu kuat. Hubungan ini biasanya tidak bertahan lama karena mereka akhirnya sadar siapa orang yang mereka cintai. Maka sebelum memastikan diri untuk berkomitmen dalam suatu hubungan, rasio cinta juga harus terlibat.

      Salah satu kesalahan yang seringkali dialami dalam pengalaman cinta adalah membuat keputusan ketika kita merasa takut. Seorang wanita bisa mengambil keputusan karena ia takut untuk menolak dan takut menyakiti perasaan pria yang menyatakan cinta kepada dirinya. Jangan pernah mengambil keputusan pada saat kita merasa takut. Pastikan bahwa kita sadar dengan jelas apa yang kita rasakan dan siapa orang yang kita cintai. Apakah kita kenal siapa dirinya? Apakah kita bisa menghargai dirinya? Apakah kita bertanggung jawab terhadap dirinya dan sebaliknya? Berbagai pertanyaan ini akan menolong kita untuk mengambil keputusan tanpa harus merasa takut.

      Satu hal lagi yang penting mengenai emosi dan rasio cinta adalah pentingnya tujuan yang jelas dalam menjalin cinta. Penulis mendapati bahwa banyak pasangan yang tidak memiliki tujuan yang jelas dalam hubungan mereka. Mereka ingin bahagia. Namun ketika ditelusuri lebih jauh mengenai apa arti kebahagiaan bagi mereka, tidak ada jawaban yang jelas. Mengapa demikian? Karena ingin bahagia saja tidak cukup untuk memulai suatu hubungan. Semua orang pasti ingin bahagia. Dalam hal ini emosi dan rasio harus berperan dalam menentukan bentuk kebahagiaan yang ingin kita capai.

      Emosi kita akan mengatakan bahwa kita bahagia saat kita senang, namun bagaimana jika sebaliknya. Maka rasio berperan untuk menjelaskan bahwa baik senang maupun susah kebahagiaan dapat saja dialami jika cinta benar-benar dialami. Hal inilah yang menjadi dasar ketika dua orang yang saling mencintai mengucapkan janji setia untuk menikah baik dalam senang maupun susah.

     Jadi tentukanlah fokus dan tujuan yang jelas dalam pengalaman cinta anda. Siapa orang yang anda cintai? Apa yang anda inginkan? Bagaimana mencapainya? Sudahkah anda belajar mencintai? Amy Carmichael menulis You can give without loving but you cannot love without giving. Selamat mencintai.


oleh:Evans Garey

Wednesday, July 3, 2013

seni dalam patung pancoran

-
Jika melewati jembatan Pancoran, Jakarta Selatan, Anda bakal menemui tugu melengkung yang dihiasi oleh sebuah patung di atasnya. Ya, namanya adalah Patung Dirgantara, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Patung Pancoran--karena lokasinya berada di bilangan Pancoran.

Namun, tahukah Anda? Ada kisah unik di balik pembuatan patung tersebut. Ya, Patung Dirgantara di bundaran Jalan Jenderal Gatot Subroto itu dibuat berdasarkan rancangan Edhi Sunarso, dikerjakan oleh pematung keluarga Arca Yogyakarta pimpinan Edhi Sunarso.

Ide pertama pembuatan patung itu datang dari Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno yang menghendaki agar dibuat sebuah patung mengenai dunia penerbangan Indonesia atau kedirgantaraan. Patung ini menggambarkan manusia angkasa, yang menyimbolkan semangat keberanian bangsa Indonesia menjelajah angkasa.

Pada awalnya pembuatan patung itu, Bung Karno sendirilah yang menjadi modelnya. Sebelum maket patung dikerjakan oleh Edhi Sunarso, Bung Karno berulang kali memperagakan bagaimana model patung itu harus berdiri. Dan, biaya pemasangan patung ini berasal dari kocek pribadi Bung Karno dengan menjual sebuah mobil pribadinya.

Proses pemasangan Patung Dirgantara selalu ditunggui oleh Bung Karno. Alhasil, kehadirannya selalu merepotkan aparat negara yang bertugas menjaga keamanan sang Kepala Negara.

Alat pemasangannya pun sederhana saja: dengan menggunakan Derek tarikan tangan. Patung yang berat keseluruhannya 11 ton tersebut terbagi dalam potongan-potongan yang masing-masing beratnya 1 ton.

Patung ini terbuat dari bahan perunggu. Berat patung tersebut 11 ton dengah tinggi 11 meter. Sementara tinggi voetstuk (kaki patung) 27 meter, dikerjakan oleh PN Hutama Karya dengan Ir. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Ada pula isu menarik seputar Patung Pancoran. Konon, patung itu menunjuk sebuah tempat dimana Bung Karno meletakkan harta kekayaannya. Dan, harta itu dipercaya dapat melunasi utang-utang negara.

Selain itu, beberapa orang menceritakan bahwa patung ini menghadap ke sebuah Pelabuhan Sunda Kelapa. Nah, selama masa penjajahan Belanda, pelabuhan tersebut menjadi jantung peradaban bangsa Indonesia.(Berbagai Sumber/S)

busana adat jawa yang kental akan seni

     Busana adat Jawa biasa disebut sebagai busana kejawen yang mempunyai perlambang atau perumpamaan terutama bagi orang Jawa yang biasa mengenakannya. Busana kejawen penuh dengan piwulang sinandhi, kaya akan ajaran tersirat yang terkait dengan filosofi Jawa.

Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni, yang berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, dengan diri sendiri, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

1. Iket
Iket adalah tali kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk penutup kepala. Cara mengenakan iket harus kenceng, kuat, supaya ikatannya tidak mudah terlepas.

Bagi orang Jawa arti iket adalah hendaknya manusia mempunyai pemikiran yang kenceang, tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.

2. Udheng
Udheng dikenakan di kepala dengan cara mengenakannya seperti mengenakan sebuah topi. Udheng artinya mudheng atau mengerti dengan jelas. Artinya manusia akan mempunyai pemikiran yang kukuh bila mengerti dan memahami tujuan hidupnya.

Artinya, manusia senantiasa mencari kesejatian hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai keahlian.ketrampilan serta dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantab atau mudheng. Atau juga berarti juga hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang professional.

3. Rasukan
Sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa, hendaklah orang Jawa ngrasuk atau menganut agama dan melalu menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa dengan iman dan taqwa. Artinya hendaklah orang Jawa takut akan Allah SWT dan bersedia untuk selalu melakukan apapun kehendak Allah SWT.

4. Benik
BUsana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) di sebelah kiri dan kanan. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah hendaklah orang Jawa dalam berbuat selalu diniknik (diperhitungkan dengan cermat). Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain, dapat menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.

5. Sabuk
Sabuk dikenakan dengan cara melingkarkannya ke badan. Lambang atau arti dari sabuk tersebut adalah manusia harus bersedia untuk berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dari itu manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai pekerjaannya itu tidak ada hasil atau buk (tidak ada keuntungan, impas). Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne.

6. Epek
Epek bagi orang Jawa mempunyai arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik, harus epek(apek, golek, mencari) pengetahuan yang berguna. Selama menempuh ilmu upayakanlah untuk tekun, teliti dan cermat, sehingga dapat memahami dengan jelas.

7. Timang
Timang mempunyai pralambang bahwa apabila ilmu yang ditempuh itu dipahami dengan jelas atau gamblang, tidak akan ada rasa kuatir (samang-samang, berasal dari kata timang).

8. Jarik
Jarik atau sinjang merupakan kain panjang yang akan dikenakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki. Jarik bermakna “aja gampang serik”. Artinya, jangan mudah iri terhadap orang lain, menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati, tidak grusa-grusu atau emosional.

9. Wiru
Jarik atau kain yang dikenakan selalu dengan cara mewiru ujungnya sedemikian rupa. Wiru atau wiron bias terjadi dengan cara melipat-lipat ujung jarik sehingga berwujud wiru. Berarti, jarik tidak lepas dari wiru. Wiru, artinya wiwiren aja nganti kleru, olahlah segala hal yang terjadi sedemikian rupa sehingga bias menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis.

10. Bebed
Bebed adalah kain atau jarik yang sedang dikenakan seorang laki-laki pada bagian tubuh sepanjang kakinya. Bebed artinya manusia harus ubed, rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan tumindak nggubed ing rina wengi artinya “bekerjalah” sepanjang hari.

11. Canela
Canela mempunyai arti canthelna jroning nala, atau peganglah kuat-kuat dalam hatimu. Canela sama artinya dengan cripu, selop, atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki, artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, hendaklah dari lahir sampai batin sujud. Dalam hati hanyalah sumeleh, pasrah akan kekuasaan-Nya Yang Maha TInggi.

12. Curiga lan Rangka
Curiga atau keris berwujud wilahan, bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya, manunggaling kawula Gusti.

Karena diletakkan di bagian belakang tubuh, keris mempunyai arti bahwa dlam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bias untuk ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan berbuat kebaikan.

batik

         Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing
       . Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. 

Wayang.



             Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.

            Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

           Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.

         Pertunjukan wayang di setiap negara memiliki teknik dan gayanya sendiri, dengan demikian wayang Indonesia merupakan buatan orang Indonesia asli yang memiliki cerita, gaya dan dalang yang luar biasa.

Kadangkala repertoar cerita Panji dan cerita Menak (cerita-cerita Islam) dipentaskan pula.

         Wayang, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu “Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)”.

Sunday, June 16, 2013

pusat kebudayaan sunda di bandung

Setiap bangsa di dunia memiliki cirri dan adapt kebiyasaan yang disebut kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil karya dan pengetahuan yang dimiliki manusia dan terbentuk atas beberapa unsure. Unsure-unsur tersebut ada yang memberikan sifat khusus atau cirri yang berbeda antara suatu daerah (bangsa) dengan daerah (bangsa) lain.
 Menurut Koentjaraningrat (1974) :
 “Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari budi dan karyanya.”
 Kebutuhan suatu bangsa tidak terpelas dari pengaruh, akibat modernisasi dengan pembangunan disegala bidang juga dapat membawa pengaruh dalam bidang kebudayaan. Hal ini membuat masyarakat di negara-negara berkembang (Indonesia) berada pada masa transisi yang ditandai dengan belum sepenuhnya menerima nilai-nilai baru sedangkan nilai-nilai lama atau tradisional sudah mulai ditinggalkan.
 Masuknya budaya asing membuat masyarakat mudah menerima kebudayaan itu tanpa dicerna terlebih dahulu. Tanpa disadari, kebudayaan tradisional yang sudah lama dipegang dan dihayati mulai dipelaskan satu-persatu dan ditelan oleh kebudayaan asing (Kebudayaan Barat).
 Setiap orang membicarakan atau membahas tantang peranan, hubungan, pembinaan atau pengembangan kebudayaan daerah nasional di Indonesia, niscaya berangkat dan berpegang pada pasal 32 UUD 1945 dengan Penjelasannya.
 Pasal 32 UUD 1945 : “Pemerintah memajukan kebudayaan Indonesia.”
 Penjelasannya : “Kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan aslu terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan yang harus meuju kearah kemajuan adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan derajad kemanusiaan bangsa Indonesia.”
 Budaya asing lebih mudah mempengaruhi generasi muda. Oleh karena itu, generasi sebagai penerus bangsa berkewajiban menghayati nilai-nilai budaya bangsa. Generasi muda tidak hanya tah, tetapi juga berusaha melestarikan kebudayaan daerahnya dalam hal ini kebudayaan Sunda dari pengaruh kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan daerahnya.
 Kesadaran arti budaya tradisional yang ada merupakan dasar bagi perkembangan seni budaya. Masyarakat adalah pendukung kelangsungan hidup seni daerah, sehingga diharapkan mempunyai keinginan memelihara kesenian itu. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas, adalah mengarahkan perkembangan kebudayaan dalam suatu wadah yang tepat dan berfungsi secara optimal.
 Budaya merupakan salah satu faktor yang penting sebagai penunjang pariwisata karena keunikan dan kebudayaan itu sendiri tidak ada di daerah lain. Adanya usaha dari pemerintah untuk mengkaji dan melestarikan kebudayaan Sunda didasarkan pada peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat tentang pelestarian, pembinaan, dan pengembangan seni dan budaya daerah Jawa Barat.
 Menurut Enoch Atmadibrata (dalam Buletin Kawit No. 50/1997) di Jawa Barat terdapat kebudayaan Sunda sebagai budaya asal yang telah bertahan dan berkembang sejak berabad-abad lamanya yang pada aspek keseniannya dengan jelas masih memiliki keutuhan cirri-ciri dasar yang mandiri diseluruh wilayah yang kini bahkan dahulu sebelum dibatasi menjadi sepertiga dari pulau Jawa.
 Kebudayaan Sunda merupakan manifestasi gagasan dan pikiran, serta kegiatan baik yang abstrak maupun berbentuk benda yang dilakukan oleh sekelompok manusia yang tinggal didaerah Priangan dan menamakan dirinya orang Sunda. (Ajip Rosidi dalam Depdikbud, 1986)
 Bahwa masyarakat sunda memiliki tradisi kesenian dan kebudayaan yang tinggi tidaklah diragukan lagi, dengan adanya bukti-bukti baik dalam bentuk karya-karya maupun karya seni yang bermutu tinggi. Namun adalah juga kenyataan yang susah dipungkiri bahwa masyarakat Sunda, khususnya angkatan mudanya makin lama semakin terasing dan mengasingkan karya-karya leluhurnya. Oleh karena itu yang kreatif diantara angkatan muda itu bila menciptakan sesuatu terpaksa dimulai dari nol atau mulai dari unsure-unsur kesenian asing, sehingga karya-karyanya tidak menjadi bagian dari kesenian Sunda. (Saini KM. dalam Dendikbud 1986).
 Pada tahun 2000 terjadi penurunan jumlah wisatawan karena adanya pengaruh krisis moneter dan politik yang semakin para dialami Indonesia terutama wisatawan mancanegara. Selain itu masyarakat kurang terhadap apresiasi seni dan budaya terutama generasi muda. Budaya/tradisi yang dirasakan orang Sunda hanya sebatas waktu dinikahkan saja. Tradisi kebudayaan Sunda dalam kehidupan masyarakat Sunda seperti Longser. Namun sekarang sudah tidak akrab lagi, hal ini mengkin pengaruh globalisasi.
 Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kota Bandung, jumlah wisatawan yang datang ke tempat-tempat wisata budaya dari tahun 1999-2000 mengalami penurunan yang drastic dari 103.965 wisatawan (1999) menkadi sekitar 8000 wisatawan (2000). Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk lebih memfokuskan pada wisata seni budaya (Sunda). Baru-baru ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung mencoba mengadakan suatu misi seni budaya Sunda, yaitu pagelaran kesenian khas Sunda yang diadakan pada lapangan terbuka untuk menarik minat masyarakat Sunda agar dapat kembali pada kesundaannya, dan cukup mendapat sambutan dari masyarakat. Dengan demikian upaya pengembangan dan pelestarian kebudayaan Sunda ini dapat diteruskan lebih lanjut.
 Bahwa nilai-nilai lihur dari seni dan budaya Sunda harus dijaga dan dilestarikan karena kalau bukan orang Sunda yang melakukan siapa lagi. Ini merupakan tantangan bagi diri sendiri, bahwa masyarakat mencintai seni dan budaya Indonesia tapi bukan hanya dengan ucapan saja melainkan dengan tindakan, kreatifitas, dan perilaku.
 Hal ini merupakan kritik terhadap pemerintah, masyarakat, dan diri sendiri karena budaya sendiri telah banyak diabaikan akibat pengaruh dari kebudayaan asing yang dijadikan pegangan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai generasi muda, marilah kita lestarikan budaya daerah sendiri jangan mengikuti budaya lain/asing yang belum tentu sesuai dengan daerah sendiri.
 Sesuai dengan prinsip otonomi daerah, berusaha mengembangkan potensi daerah masing-masing karena itu, perlu suatu pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan dalam wujud pusat kebudayaan khususnya Pusat Kebudayaan Sunda. Adanya sarana informasi mengenai kebudayaan daerah untuk keperluan akademik/pencarian data tentang kebudayaan Sunda mulai dibutuhkan. Selain itu, tersedianya sarana bagi seniman muda, seniman daerah untuk mengembangkan kesenian dan kebudayaan Sunda.
 Bandung merupakan lokasi yang tepat untuk suatu Pusat Kebudayaan Sunda karena Bandung sebagai landmark Kebudayaan Sunda. Bila orang ingat ‘Sunda’maka, orang akan ingat ‘Bandung’. Bandung juga sebagai ibukota propinsi Jawa Barat menjadi pusat segala aktivitas, antara lain pendidikan, perdagangan, ekonomi, dan pemerintahan. Bandung mempunyai potensi wisata yang besar seperti ‘wisata Bandung tempo doeloe’ (motto pariwisata Bandung Tempo Doeloe “Jangan datang ke Bandung, bila kau tinggalkan istrimu di rumah”). Bandung juga memiliki beberapa potensi yaitu, adanya beberapa paguyuban seni tradisional seperti Wayang Golek dan Karawitan, serta memiliki perguruan tinggi yang menjalankan pendidikan di bidang seni seperti ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Bandung, STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia), SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) dan ITB Jurusan Seni Rupa dan Desain.
 Pengembangan dan pelestarian kebudayaan Sunda dalam mewujudkan pengembangan pariwisata di Bandung ditujukan untuk lebih mengenal tentang kebudayaan Sunda. Adanya pusat kebudayaan Sunda ini menjadi wadah pengkajian nilai-nilai kebudayaan Sunda untuk promosi, pelestarian, penelitian, dan edukasi dari kebudayaan Sunda yang ada.
 Adanya Pusat Kebudayaan Sunda dapat membina apresiasi generasi muda dalam seni dan budaya Sunda misalnya dengan menonton pertunjukan kesenian yang bersifat mendidik, mendidik budi pekerti, membina unsure-unsur keteladanan, sehingga diharapkan dapat memiliki tradisi yang kuat terhadap kesundaannya.
 Pusat Kebudayaan Sunda yang direncanakan berlokasi di Bandung ini mendapat pengaruh dari arsitektur local yaitu, Arsitektur Tradisional Sunda. Sebagai penekanan desain pada bangunan menggunakan Transformasi Arsitektur Tradisional Sunda, sehingga membuat tampilan bangunan lebih representatif tanpa menghilangkan sifat khas Arsitektur Tradisional Sunda atau nilai-nilai budaya Sunda. Misalkan, bentuk atap menggunakan Julang Ngapak, bentuk ini sudah banyak diterapkan pada bangunan-bangunan di Bandung. Dengan demikian, Pusat Kebudayaan Sunda yang direncakan tetap mewakili dari Arsitektur Tradisional Sunda.
 Dari uraian tersebut diatas, dibutuhkan adanya Pusat Kebudayaan Sunda di Bandung yang ditujukan untuk mewadahi semua kegiatan pengembangan, promosi, penelitian, dan pelestarian terhadap kebudayaan Sunda. Pusat Kebudayaan Sunda ini dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas penunjang kegiatan yang menggunakan persyaratan standar-standar yang ditentukan. Perencanaan dan perancangan ini menggunakan penekanan desain Transformasi Arsitektur Tradisional Sunda untuk tampilan bangunan, sehingga diharapkan kebudayaan Sunda ini akan semakin memperkuat kota Bandung dalam penyediaan obyek pariwisata yang bersifat informasi dan pendidikan (rekreasi budaya). Adanya Pusat Kebudayaan Sunda diharapkan nanti orang Sunda dapat kembali pada Kesundaannya.

 B. TUJUAN DAN SASARAN
 Tujuan dari pembahasan dalam Landasan Program perencanaan dan Perancangan Arsitektur ini adalah untuk menggali, mengumpulkan serta mengidentifikasikan permasalahan yang ada. Perumusan permasalahan tersebut untuk memperoleh solusi yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Pusat Kebudayaan Sunda di Bandung.
 Sasaran yang ingin dicapai dari pembahasan ini adalah tersusunnya suatu landasan program perencanaan dan perancangan Pusat Kebudayaan Sunda di Bandung.

 C. MANFAAT
 1. Secara Subyektif
 Sebagai mahasiswa arsitektur diharapkan dapat menjadi masukan dan pengalaman dalam mengenali permasalahan yang mungki ada di lapangan, sehingga dapat memperoleh alternatif-alternatif pemecahan masalah baik secara arsitektural maupun kontektual dalam merencanakan dan merancang suatu obyek desain.
 2. Secara Obyektif
 Diharapkan dapat dihasilkan suatu Landasan Program Perencanaan dan Perancangan yang dapat digunakan dalam merencanakan suatu Pusat Kebudayaan Sunda di Bandung sebagai wisata budaya yang bersifat informasi dan pendidikan.

 D. LINGKUP PEMBAHASAN
 1. Lingkup Substansial
 Lingkup pembahasan dibatasi pada masalah-masalah yang berkaitan dengan perwujudan fisik Pusat Kebudayaan Sunda dengan penekanan pembahasan lebih mengarah pada pemikiran-pemikiran arsitektur dan berkaitan dengan masalah perencanaan dan perancangan bangunan.
 Hal-hal yang berada diluar disiplin arsitektur yang mempengaruhi, melatarbelakangi, menentukan atau melandasi pada faktor-faktor perancangan akan dibatasi, dipertimbangkan atau diasumsikan.
 2. Lingkup Spasial
 Perencanaan dan perancangan Pusat Kebudayaan Sunda di Bandung mengambil lokasi yang sesuai dengan rutrk Kodia Bandung tahun 2005. Dasar dan arahan penggunaan tanah di Kodia Bandung mempertimbangkan atas keadaan fiik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat kotanya agar tercapai suatu keseimbangan penggunaan ruang yang harmonis dan wajar. Alternatif lokasi tersebut berada di kawasan Dago (wilayah Cibeunying), Braga (wilayah Cibeunying) dan Sukajadi (wilayah Bojonagara).

 E. METODE PEMBAHASAN
 1. Tahap Pengumpulan Data
 Data-data diperoleh melalui observasi lapangan, foto, dan gambar-gambar yang berkaitan dengan Pusat Kebudayaan Sunda. Wawancara langsung kepada nara sumber yang dilakukan untuk mengetahui mengenai data, masalah dan potensi yang dimiliki kawasan studi, serta data diperoleh dari studi literatur dan studi banding dengan obyek sejenis.
 2. Tahap Analisa
 Data yang diperoleh dianalisa kemudian menggali potensi dan masalah yang ada serta mencari keterkaitan antar masalah yang ada untuk memperoleh gambaran sebab permasalahan itu terjadi. Tahap analisa ini berdasarkan pada landasan teoritis dan tinjauan Pusat Kebudayaan Sunda.
 3. Tahap Sintesa
 Tahap ini adalah kelanjutan dari analitis merupakan upaya pemecahan permasalahan yang dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek. Peraturan pemerintah yang berlaku dan potensi yang ada serta faktor-faktor yang berpengaruh diolah dengan baik sehingga dapat diperoleh elternatif pemecahan masalah berupa Landasan Program Perencanaan dan Perancangan.

 F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
 Sistematika pembahasan dalam Landasan Program Perencanaan dan perancangan Arsitektur (LP3A) ini sebagai berikut :
 BAB I PENDAHULUAN
 Membahas mengenai latar belakang permasalahan, tujuan dan sasaran pembahasan, manfaat, lingkup pembahasan, metode pembahasan, dan sistekatika pembahasan.
 BAB II TINJAUAN PUSAT KEBUDAYAAN SUNDA
 Membahas tentang pengertian Pusat Kebudayaan Sunda, tinjauan Pusat Kebudayaan Sunda, meliputi aspek yang ada didalamnya termasuk kegiatan maupun struktur organisasi. Membicarakan tentang masalah Kebudayaan Sunda.
 BAB III TINJAUAN PUSAT KEBUDAYAAN SUNDA DI BANDUNG DAN ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA
 Membahas tentang tinjauan kota Bandung, meliputi potensi, tata guna lahan, kondisi fisik dan fungsi kota Bandung. Membicarakan tentang studi perbandingan pada Gedung Rumentang Siang di Bandung dan Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Selain itu juga membahas mengenai arsitektur tradisional Sunda.
 BAB IV KESIMPULAN, BATASAN DAN ANGGAPAN
 Berisi kesimpulan dari pembahasan bab sebelumnya, batasan dan anggapan yang digunakan untuk memudahkan dan memperjelas dalam perencanaan dan perancangan suatu pusat kebudayaan.



 BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PUSAT KEBUDAYAAN SUNDA DI BANDUNG
 Membahas mengenai dasar-dasar analisa sebagai dasar pendekatan terhadap aspek manusia, aspek ruang/bangunan dan aspek lingkungan.
 BAB VI KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERACANGAN ARSITEKTUR
 Menguraikan tentang konsep dan program ruang dasar perancangan yang akan digunakan dalam perancangan fisik.

Friday, June 14, 2013

lamut kesenian dari banjar




Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang atau cianjuran.

Bedanya, wayang atau cianjuran dimainkan dengan seperangkat gamelan dan kecapi, sedangkan lamut dibawakan dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah.

Mereka yang baru melihat seni lamut selalu mengira kesenian ini mendapat pengaruh dari Timur Tengah. Pada masa Kerajaan Banjar dipimpin Sultan Suriansyah, lamut hidup bersama seni tutur Banjar yang lain, seperti Dundam, Madihin, Bakesah, dan Bapantun.

Pelaksanaan Lamut akan dilakukan pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau menjelang subuh tiba. Pembawa cerita dalam Lamut ini diberi julukan Palamutan.

Pada acara, Palamutan dengan membawa terbang besar yang diletakkan dipangkuannya duduk bersandar di tawing halat (dinding tengah), dikelilingi oleh pendengarnya yang terdiri dari tua-muda laki-perempuan. Khusus untuk perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah tadi.

Sejarah
Lamut berasal dari negeri China, bahasanya pun semula menggunakan bahasa Tionghoa kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Banjar.

Datangnya lamut di tanah Banjar kira-kira pada tahun 1816 yang di bawa oleh para pedagang Tionghoa ke Banjar hingga ke Amuntai, konon orang-orang dulu sangat menyukainya karena lamut membawa cerita yang sangat banyak dan merupakan cerita pengalaman di banyak negeri yang di sampaikan secara bertutur.

Ceritanya, di Amuntai, Raden Ngabe bertemu pedagang China pemilik kapal dagang Bintang Tse Cay. Dari pedagang itulah ia pertama kali mendengar alunan syair China. Dalam pertemuan enam bulan kemudian, Raden Ngabe mendapatkan salinan syair China tersebut.

Sejak itulah Raden Ngabe mempelajari dan melantunkannya, tanpa iringan terbang. Lamut mulai berkembang setelah warga minta dimainkan setiap kali panen padi berhasil baik. Ketika kesenian hadrah masuk di daerah ini, Lamut mendapat iringan terbang.

Seni bertutur itu disebut lamut karasmin karena menjadi hiburan pada perkawinan, hari besar keagamaan, maupun acara nasional. Lamut juga digunakan dalam proses batatamba (penyembuhan penyakit). Orang yang punya hajat dan terkabul biasanya juga mengundang palamutan.

Kata “lamut”, konon berasal dari bahasa Arab, laamauta yang artinya tidak mati.

Macam-macam Lamut
1. Lamut Batatamba

Lamut Batatamba (Lamut pengobatan) berfungsi sebagai pengobatan, misalnya untuk anak yang sakit panas yang tidak sembuh-sembuh, atau ada orang yang sulit melahirkan dan lain-lain.

Pertunjukan lamut batatamba haus disertai dengan sejumlah persyaratan, yaitu piduduk yang terdiri dari perangkat piduduk (sesaji), kemenyan atau perapin (dupa), beras kuning, garam, kelapa utuh, gula merah, dan sepasang benang-jarum.

Setelah itu dilakukan tepung tawar dengan mahundang-hundang (mengundang) roh halus, membacakan doa selamat, dan memandikan air yang telah didoakan kepada si sakit.

2. Lamut Baramian

Lamut Baramian (Lamut Hiburan) biasa dihadirkan untuk mengisi acara perkawinan, syukuran, khitanan dan acara hiburan lainnya. Bila pada wayang ada tokoh punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, pada Lamut tokohnya adalah Paman Lamut serta tiga anaknya; Anglung, Angsina, dan Labai Buranta.

Sedangkan ceritanya sudah berpakem seperti wayang purwa, tentang kerajaan yang dipimpin Prabu Awang Selenong.

Meski tokoh dan pakem cerita lamut tertentu, pengembangan cerita tetap dimungkinkan sesuai kemampuan si pelamutan dalam meramu. Ramuan cerita itu bisa disadur dari kisah Panji, Andi-andi, atau Tutur Candi, bahkan cerita 1.001 malam. Kisah juga bisa menjadi dramatis dengan lakon yang gagah berani atau romantis.

Masyarakat Banjar paling mengharapkan kisah percintaan antara Junjung Masari dan Kasan Mandi. Para penonton hanyut ketika mendengar kisah percintaan kedua tokoh itu dalam syair pantun bahasa Banjar.

Lamut juga digemari warga keturunan Tionghoa di Banjarmasin. Mereka kerap minta lamut dimainkan saat hendak sembahyang di Pulau Kembang di tengah Sungai Barito di Banjarmasin.

Fungsi Lamut
Lamut berfungsi :

Sebagai media dakwah agama Islam dan muatan pesanpesan pemerintah atau pesan dari pengundang Lamut.
Sebagai hiburan
Manyampir, yaitu tradisi bagi keturunan palamutan.
Hajat seperti untuk tolak bala atau doa selamat pada acara kelahiran anak, khitanan atau sunatan, mendapat rejeki. Menurut kepercayaan, kalau menyampir dan hajat ini tidak dilaksanakan maka akan membuat mamingit yakni menyebabkan sakit bagi yang bersangkutan.
Sebagai pendidikan terutama mengenai tata krama kehidupan masyarakat Banjar. Biasanya petatah petitih berupa nasihat, petuah atau bimbingan moral.
Terancam punah

Seni lamut bisa dikatakan bernasib malang karena kini di ambang punah. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara proses pewarisan dan regenerasi kesenian itu mandek.

Seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda tak lagi tertarik memainkannya. Kini, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, apalagi membina munculnya pelamutan baru.



kutipan soekarno tentang seni budaya

Kenangan terhadap Mantan Presiden R.I IR.Soekarno

Arsitek Sudarsono menuturkan pengalamannya bekerjasama dengan Bung Karno. Dikatakannya bahwa Bung Karno sangat idealis dalam memelihara hasil seni. Hasil yang sudah baik, masih dicoba mengolah yang lebih baik lagi
Kepada pelukis Henk Ngantung, B.K pernah menuliskan memo:
.
Sdr. Henk Ngantung: "Lima P"

  • Perut
  • Pakaian
  • Perumahan
  • Pergaulan
  • Pengetahuan


Kebutuhan absolut bagi rakjat.
Dalam 4 & 5 termasuklah pula "pembudajaan", zin voor Rogerecultuur
Kebahagiaan - hidup karena tertjukupi perut, pakaian, perumahan, in ein ongeving von schonheid.
Dus "pola" harus meliputi pula "pola schondheit" taman
- taman yang indah, kota-kota jang tjantik, desa-desa jang menjenangkan djiwa.
Pentingnya city-planning, soal ibu-kota

seni kehidupan

KUTIPAN CINTA

~ Cinta itu kayak kopi. Kalo diminum panas-panas, pasti cepet habis, tapi kalo diminum sedikit-sedikit itu membuat cinta keburu dingin

~ Jangan lebih berharap untuk memiliki, namun lebih berharap untuk menjadi yang diingin

~ Sebaik-baiknya pria, adalah mereka yang memuliakan Ibunya

~ Hidup yang sesungguhnya masih jauh dan susah di depan. Tak usah terlalu mengforever-foreverkan tapi memaksa, koreksi beberapa->pahami->baru pilih


KUTIPAN KEHIDUPAN


~ Seni Kehidupan adalah tinggal bersama luka, dan setiap hari masih bisa tertawa

~ Lebih baik kamu menangis sekarang dan tertawa kemudian, daripada kamu mengalami sebaliknya

Thursday, June 13, 2013

Pengertian sinopsis seni tari

        Unsur utama yang paling pokok dalam tari adalah gerak tubuh manusia yang sama sekali lepas dari unsur ruang, dan waktu, dan tenaga.
Tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan berbentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika.
Beberapa pakar tari melalui simulasi di bawah ini beberapa tokoh yang mendalami tari menyatakan sebagai berikut.
Haukin menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta (Haukins: 1990, 2). Secara tidak langsung di sini Haukin memberikan penekanan bahwa tari ekspresi jiwa menjadi sesuatu yang dilahirkan melalui media ungkap yang disamarkan.

        Di sisi lain ditambahkan oleh La Mery bahwa ekspresi yang berbentuk simbolis dalam wujud yang lebih tinggi harus diinternalisasikan.
Untuk menjadi bentuk yang nyata maka Suryo mengedepankan tentang tari dalam ekspresi subyektif yang diberi bentuk obyektif (Meri:1987, 12). Dalam upaya merefleksikan tari kedua tokoh sejalan.
Kesejalanan yang dikembangkan berhubungan dengan konsep tari masih banyak diperdebatkan. Hal ini terbukti masih belum komplitnya pemahaman tari itu sendiri yang berkembang di masyarakat. Laju pertumbuhan tari memberi corak budaya yang lebih variatif, dinamis, dan sangat beragam intensitas pendalamannya. Oleh sebab itu dalam beberapa tahun ke depan tari menjadi semakin memiliki aura yang diharapkan digali terus menerus.

Pengertian sinopsis seni tari dalam perkembangan berikut, tari disampaikan oleh Soedarsono bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diubah melalui gerak ritmis yang indah. Sejalan dengan pendapat kedua tokoh terdahulu dalam buku ini, pada prinsipnya masalah ekspresi jiwa masih menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Pernyataaan yang mendasar tentang ekspresi jiwa manusia menjadi salah satu kunci tari menjadi bagian kehidupan yang mungkin hingga waktu mendatang selalu menjadi tumpuhan perkembangannya.
Dalam konteks yang masih sama Soeryodiningrat memberi warna khasanah tari bahwa beliau lebih menekankan kepada gerak tubuh yang berirama. Hal ini seperti terpetik bahwa tari adalah gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik atau gamelan diatur oleh irama sesuai dengan maksud tujuan tari (Soeryodiningrat: 1986, 21). Lebih jauh lagi ditambahkan CurtSach bahwa tari merupakan gerak yang ritmis (CurtSach: 1978, 4).

Tari sering kita lihat dalam berbagai acara baik melalui media televisi (TV), maupun berbagai kegiatan lain seperti pada acara khusus berupa pergelaran tari, paket acara tontonan yang diselenggarakan misalnya oleh Taman Mini Indonesia Indah (TMII), paket acara yang digelar oleh Pasar Seni Ancol, dan acara tontonan dalam kegaiatan kenegaraan maupun acara-acara yang berkaitan dengan keagamaan, perkawinan maupun pesta lain yang berhubungan dengan adat.
Tari merupakan salah satu cabang seni, dimana media ungkap yang digunakan adalah tubuh. Tari mendapat perhatian besar di masyarakat. Tari ibarat bahasa gerak merupakan alat ekspresi manusia sebagai media komunikasi yang universal dan dapat dinikmati oleh siapa saja, pada waktu kapan saja.
Sebagai sarana komunikasi, tari memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Pada berbagai acara tari dapat berfungsi menurut kepentingannya. Masyarakat membutuhkan tari bukan saja sebagai kepuasan estetis, melainkan dibutuhkan juga sebagai sarana upacara Agama dan Adat.

Apabila disimak secara khusus, tari membuat seseorang tergerak untu mengikuti irama tari, gerak tari, maupun unjuk kemampuan, dan kemauan kepada umum secara jelas. Tari memberikan penghayatan rasa, empati, simpati, dan kepuasan tersendiri terutama bagi pendukungnya.

Tari pada kenyataan sesungguhnya merupakan penampilan gerak tubuh, oleh karena itu tubuh sebagai media ungkap sangat penting perannya bagi tari. Gerakan tubuh dapat dinkmati sebagai bagian dari komunikasi bahasa tubuh. Dengan itu tubuh berfungsi menjadi bahasa tari untuk memperoleh makna gerak.

Tari merupakan salah satu cabang seni yang mendapat perhatian besar di masyarakat. Ibarat bahasa gerak, hal tersebut menjadi alat ekspresi manusia dalam karya seni. Sebagai sarana atau media komunikasi yang universal, tari menempatkan diri pada posisi yang dapat dinikmati oleh siapa saja dan kapan saja.
Peranan tari sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai acara yang ada dalam kehidupan manusia memnfaatkan tarian untuk mendukung prosesi acara sesuai kepentingannya. Masyarakat membutuhkannya bukan saja sebagai kepuasan estetis saja, melainkan juga untuk keperluan upacara agama dan adat.
Dalam konteksnya, beberapa unsur gerak tari yang tampak meliputi gerak, ritme, dan bunyi musik, serta unsur pendukung lainnya. John Martin dalam The Modern Dance, menyatakan bahwa, tari adalah gerak sebagai pengalaman yang paling awal kehidupan manusia. Tari menjadi bentuk pengalaman gerak yang paling awal bagi kehidupan manusia.
Media ungkap tari berupa keinginan/hasrat berbentuk refleksi gerak baik secara spontan, ungkapan komunikasi kata-kata, dan gerak-gerak maknawi maupun bahasa tubuh/gestur. Makna yang diungkapkan dapat diterjemahkan penonton melalui denyut atau detak tubuh. Gerakan denyut tubuh memungkinkan penari mengekspresikan perasaan maksud atau tujuan tari.
Elemen utamanya berupa gerakan tubuh yang didukung oleh banyak unsur, menyatu-padu secara performance yang secara langsung dapat ditonton atau dinikmati pementasan di atas pentas. Dengan demikian untuk meperoleh gambaran yang jelas tentang tari secara jelas.

Seperti dikutip oleh M. Jazuli dalam (Soeryobrongto:1987, 12-34) dikemukakan bahwa gerak-gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik adalah tari. Irama musik sebagai pengiring dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pencipta tari melalui penari (Jazuli, 1994:44).
Pada dasarnya gerak tubuh yang berirama atau beritmeritme memiliki potensi menjadi gerak tari. Salah satu cabang seni tari yang di dalamnya mempelajari gerakan sebagai sumber kajian adalah tari. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu bergerak. Gerak dapat dilakukan dengan berpindah tempat (Locomotive Movement). Sebaliknya, gerakan di tempat disebut gerak di tempat (Stationary Movement).
Hal lain juga disampaikan oleh Hawkins bahwa, tari adalah ekspresi perasaan manusia yang diubah ke dalam imajinasi dalam bentuk media gerak sehingga gerak yang simbolis tersebut sebagai ungkapan si penciptanya (Hawkins, 1990:2). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dirangkum bahwa, pengertian tari adalah unsur dasar gerak yang diungkapan atau ekspresi dalam bentuk perasaan sesuai keselarasan irama.
Di sisi lain Sussanne K Langer menyatakan, tari adalah gerak ekspresi manusia yang indah. Gerakan dapat dinikmati melalui rasa ke dalam penghayatan ritme tertentu. Apabila ke dua pendapat di atas digabungkan, maka tari sebagai pernyataan gerak ritmis yang indah mengandung ritme.
Oleh sebab itu, tari lahir merupakan ungkapan hasrat yang secara periodik digerakan sebagai pernyataan komunikasi ide maupun gagasan dari koreografer yang menyusunnya.

Sependapat kedua pakar di atas, Corry Hamstrong menyatakan bahwa, tari merupakan gerak yang diberi bentuk dalam ruang. Pada sisi lain Suryodiningrat seorang ahli tari Jawa dalam buku Babad Lan Mekaring Djoged Djawi menambahkan, tari merupakan gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan irama musik (gamelan) diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud tertentu. Soedarsono menyatakan bahwa, tari sebagai ekspresi jiwa manusia yang diaungkapkan dengan gerak-gerak ritmis yang indah. Dengan demikian pengertian tari secara menyeluruh merupakan gerak tubuh manusia yang indah diiringi musik ritmis yang memiliki maksud tertentu.
Dengan demikian dapat diakumulasi bahwa tari adalah gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu dalam tari. Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa tari merupakan desakan perasaan manusia di dalam dirinya untuk mencari ungkapan beberapa gerak ritmis.
Tari juga bisa dikatakan sebagai ungkapan ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi dibentuk media gerak sehingga menjadi wujud gerak simbolis sebagai ungkapan koreografer. Sebagai bentuk latihanlatihan, tari digunakan untuk mengembangkan kepekaan gerak, rasa, dan irama seseorang. Oleh sebab itu, tari dapat memperhalus pekerti manusia yang mempelajarinya.
Untuk memperoleh pengertian tari lebih mendalam, maka diperlukan informasi tentang unsur tari, aspek tari, dan pendukung tari melalui sumber media dalam bentuk foto-foto, VCD/DVD serta media lain.

Saturday, June 8, 2013

Pengertian Seni

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Pengertian Seni, memiliki tiga arti antara lain:
a. Seni diartikan halus, kecil dan halus, tipis, lembut dan enak didengar, mungil dan elok.
b. Keahlian membuat karya bermutu (dilihat dari segi keindahan dan kehalusannya)
c. kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi

Menurut Ki Hajar Dewantara, seni merupakan perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah sehinga dapat menggerakkan jiwanya.

Dalam bahasa Sanskerta, kata seni disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang menjadi segala macam kekriaan yang artistik. Cilpacastra yang banyak disebut-sebut dalam pelajaran sejarah kesenian, adalah buku atau pedoman bagi para cilpin, yaitu tukang, termasuk di dalamnya apa yang sekarang disebut seniman. Memang dahulu belum ada pembedaan antara seniman dan tukang. Pemahaman seni adalah yang merupakan ekspresi pribadi belum ada dan seni adalah ekspresi keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian itu ternyata tidak hanya terdapat di India dan Indonesia saja, juga terdapat di Barat pada masa lampau.

Dalam bahasa Latin pada abad pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah teknik atau craftsmanship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu; adapun artes berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan atau kemahiran; dan artista adalah anggota yang ada di dalam kelompok-kelompok itu. Maka kiranya artista dapat dipersamakan dengan cilpa.

Berdasarkan penelitian para ahli menyatakan seni/karya seni sudah ada sejak 60.000 tahun yang lampau. Bukti ini terdapat pada dinding-dinding gua di Prancis Selatan. Buktinya berupa lukisan yang berupa torehan-torehan pada dinding dengan menggunakan warna yang menggambarkan kehidupan manusia purba. Artefak/bukti ini mengingatkan kita pada lukisan moderen yang penuh ekspresi. Hal ini dapat kita lihat dari kebebaan mengubah bentuk. Satu hal yang membedakan antara karya seni manusia Purba dengan manusia Moderen adalah terletak pada tujuan penciptaannya. Kalau manusia purba membuat karya seni/penanda kebudayaan pada massanya adalah semat-mata hanya untuk kepentingan Sosioreligi, atau manusia purba adalah figure yang masih terkungkung oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya.

Sedangkan manusia moderen membuat karya seni/penanda kebudayaan pada massanya digunakan untuk kepuasan pribadinya dan menggambarkan kondisi lingkungannya “mungkin”. Dengan kata lain manusia moderen adalah figure yang ingin menemukan hal-hal yang baru dan mempunyai cakrawala berfikir yang lebih luas. Semua bentuk kesenian paa jaman dahulu selalu ditandai dengan kesadaran magis; karena memang demikian awal kebudayaan manusia. Dari kehidupan yang sederhana yang memuja alam sampai pada kesadaran terhadap keberadaan alam.

Matius Ali dalam Estetika, Sebuah Pengantar Filsafat Keindahan, membagi seni dalam 3 kategori, yaitu:
a. Teori Mimesis yang disampaikan oleh para filsuf Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles, menurut teori ini, seni adalah tiruan atau menirukan alam
b. Teori Ekspresi Seni Modern, Seni adalah ungkapan emosi atau ungkapan perasaan seniman
c. Teori Cita Rasa, seni bukanlah keindahan, tetapi merupakan pengalaman atau perasaan seseorang

Sunday, June 2, 2013

fungsi seni

Fungsi-fungsi seni terdiri atas fungsi ritual, pendidikan, komunikasi, hiburan, artistik dan fungsi guna.

Bagaimana kita dapat mengidentifikasikan sebuah karya seni khususnya kesenian tradisi berdasarkan fungsi-fungsinya. Berikut diuraikan tentang fungsi-fungsi seni.

Fungsi Ritual

Suatu pertunjukan yang digunakan untuk sebuah upacara yang berhubungan dengan upacara kelahiran, kematian, ataupun pernikahan. Contoh : Gamelan yang dimainkan pada upacara Ngaben di Bali yakni gamelan Luwang, Angklung, dan Gambang. Gamelan di Jawa Gamelan Kodhok Ngorek, Monggang, dan Ageng.

Fungsi Pendidikan

Seni sebagai media pendidikan misalnya musik.
Contoh : Ansambel karena didalamnya terdapat kerjasama, Angklung dan Gamelan juga bernilai pendidikan dikarenakan kesenian tersebut mempunyai nilai sosial, kerjasama, dan disiplin.

Fungsi Komunikasi

Suatu pertunjukan seni dapat digunakan sebagai komunikasi atau kritik sosial melalui media seni tertentu seperti, wayang kulit, wayang orang dan seni teater, dapat pula syair sebuah lagu yang mempunyai pesan.

Fungsi Hiburan

Seni yang berfungsi sebagai hiburan, sebuah pertunjukan khusus untuk berekspresi atau mengandung hiburan, kesenian yang tanpa dikaitkan dengan sebuah upacara ataupun dengan kesenian lain.

Fungsi Artistik

Seni yang berfungsi sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan karyanya tidak untuk hal yang komersial, misalnya terdapat pada musik kontemporer, tari kontemporer, dan seni rupa kontemporer, tidak bisa dinikmati pendengar/pengunjung, hanya bisa dinikmati para seniman dan komunitasnya.

Fungsi Guna (seni terapan)

Karya seni yang dibuat tanpa memperhitungkan kegunaannya kecuali sebagai media ekspresi disebut sebagai karya seni murni, sebaliknya jika dalam proses penciptaan seniman harus mempertimbangkan aspek kegunaan, hasil karya seni ini disebut seni guna atau seni terapan. Contoh : Kriya, karya seni yang dapat dipergunakan untuk perlengkapan/peralatan rumah tangga adalah Gerabah dan Rotan.

Fungsi Seni untuk Kesehatan (Terapi)

Pengobatan untuk penderita gangguan physic ataupun medis dapat distimulasi melalui terapi musik, jenis musik disesuaikan dengan latar belakang kehidupan pasien.
Terapi musik telah terbukti mampu digunakan untuk menyembuhkan penyandang autisme, gangguan psikologis trauma pada suatu kejadian, dan lain-lain.

Seperti yang telah dikatakan Siegel (1999) menyatakan bahwa musik klasik menghasilkan gelombang alfa yang menenangkan yang dapat merangsang sistem limbic jarikan neuron otak. Selanjutnya dikatakan oleh Gregorian bahwa gamelan dapat mempertajam pikiran.

Saturday, June 1, 2013

seni hadrah

       Keberadaan seni hadrah yang tergabung dalam Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) semakin terpinggirkan oleh zaman. Seni pembacaan salawat yang diiringi dengan terbang (rebana) dan gerakan tarian dari puluhan laki-laki (rodat) sudah jarang ditemui di tengah kota. Keberadaanya lebih banyak didesa-desa yang masih membudayakan seni hadrah dengan para rodatnya.

     Serambi Masjid Agung Jami Malang dipadati umat Islam dari berbagai generasi pada Selasa (15/2) malam. Cuaca yang bersahabat membuat para pecinta Nabi berbondong-bondong ke masjid yang umurnya sudah lebih dari satu abad itu. Mayoritas menggunakan pakaian putih dan berkopiah hitam dan putih.

     Mereka duduk bersama sambil membacakan Shalawat Nabi dengan irigan terbang Albanjari. Terbang lbanjari bukan hal yang baru bagi umat Islam yang ada di Kota Malang. Hampir di setia majelis taklim, masjid dan jamaah memiliki grup terbang Albanjari yang alunan musiknya dapat diubah kontemporer.

     Tapi yang membuat mereka betah berlama-lama duduk di serambi masjid, selain karena kecintaanya kepada kanjeng Nabi, mereka juga menunggu penampilan seni hadrah bersama rodat yang ditampilkan  Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) cabang Malang. Tidak kurang dari 500 orang jamaah anggota ISHARI didatangkan dari penjuru Malang raya untuk bershalawat bersama.

      Berbeda terbang Albanjari, seni hadrah memiliki pakem tersendiri baik dalam lagu, pukulan terbang hingga tarian yang dilakukan puluhan hingga ratusan orang jamaah laki-laki atau yang dikenal dengan istilah rodat. Sesuatu yang khas dari kesenian ini ialah tarian yang mengiringi syair (yang dilagukan) dan musik rebana (terbang) yang dinyanyikan secara bersama-sama (berjamaah). Tarian inilah yang disebut dengan “rodat”

      Seni hadrah (rodat) merupakan salah satu kesenian tradisi di kalangan umat Islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati Maulid Nabi di kalangan umat Islam. Kesenian ini menggunakan syair berbahasa Arab yang bersumber dari Kitab Al-Berzanji, sebuah kitab sastra yang terkenal di kalangan umat Islam yang menceritakan sifat-sifat Nabi dan keteladanan akhlaknya. ”Dulu seni hadrah berkembang dengan pesat di kalangan pesantren-pesantren. Sekarang di ISHARI cabang Malang ada 18 kelompok yang tercatat dan semuanya masih tetap eksis. Selama Maulid pun banyak undangan yang kami dapatkan. Hampir selama 40 hari banyak undangan yang kami terima,” kata Ketua ISHARI cabang Malang, KH. Ahmad Suyuti.

       Dari seluruh Jawa Timur, seni hadrah di Malang raya yang paling sedikit dari daerah lainnya. Kalau di daerah lainnya banyak bermunculan kelompok-kelompok seni hadrah, di Malang perkembangannya tidak seperti di daerah lain. Ia mencontohkan seperti di Gresik yang memiliki anggota mencapai 2000 orang lebih. Satu kelompok seni hadrah biasanya mencapai 50 orang. Di Malang perkembangan saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Jika beberapa tahun lalu, jumlahnya seni hadrah hanya 11 kelompok, sekarang sudah berkembang menjadi 18 kelompok yang tersebar di Malang raya.
Jumlah ini tentunya masih kalah jauh dibandingkan dengan kelompok terbang Albanjari atau terbang jidor yang sama-sama membaca dan melantunkan shalawat Nabi.

         ”Kami terus melakukan pengembangan dari generasi ke generasi. Generasi muda banyak direkrut untuk melestarikan seni hadrah yang dulunya dikembangkan para ulama dikalangan pesantren,” terangnya.

        Tarian yang dilakukan para rodat pun memiliki filosifi tersendiri. Tidak hanya asal menari. Nama rodat berasal dari Bahasa Arab dari kata Rodda yang artinya bolak-balik. Para penari itu memang selalu bolak-balik dalam menggerakan tangan, badan serta anggota tubuh lainnya.

         Gerakannya pun disandarkan pada kisah penyambutan Kanjeng Nabi saat berhijrah ke Madinah. Saking gembiranya dengan kedatangan nabi ke Madinah, kaum Ansor berdesak-berdesak menyambut kedatangan Nabi. Berdesak-desakan itu tercermin dalam barisan yang rapat para rodat saat menggerakan tubuhnya. Tepukan tangan para rodatpun disandarkan para kegembiraan kaum Ansor yang menyambut kedatangan Nabi di Madinah, tepuk tangan dilakukan para perempuan yang lokasinya cukup jauh dari penyambutan Nabi. ”Tepuk tangan itu juga simbol dari kegembiraan menyambut kedatangan Nabi di Madinah saat berhijrah. Gerakan semuanya sebagai simbol kecintaan kepada kanjeng nabi,”

Seni untuk Seni menurut islam

 
           Pada awal abad 19 ditengarai munculnya gerakan seni untuk seni (the art for the art) . Di Perancis gerakan ini didukung oleh Flaubert, Gauthier, dan Baudelaire. Di rusia oleh Pushkein. Di Inggris oleh Walter Patter Oscar Wilde. Di Amerika oleh sastrawan Allan Poe. Aliran ini berakar dari Romantisime Romawi yang dapat ditemukan akar-akarnya pada Friedrich  Schlegel dan Henrich Heine (Syarif, 1984 : 114).

       Mereka meyakini slogan “Seni Untuk Seni”. Dengan slogan ini dimaksudkan bahwa keindahan sebagai produk seni, adalah kualitas seni yang khusus. Ia adalah nilai dasar yang absolut, menyeluruh dan tertinggi. Nilai-nilai lain seperti kebenaran dan kebaikan berada di bawahnya atau malah sama sekali tidak relefan. Di dalam panggung kehidupan, seni memiliki daerahnya sendiri, mempunyai tujuannya sendiri, tidak mempunyai misi yang harus dipenuhi kecuali membangkitkan jiwa sang kontemprator untuk menciptakan sensasi-sensasi keindahan tertinggi. Moralitas, instruksi, uang, dan populalaritas tidak boleh menjadi tujuan seni, tetapi malah merendahkan nilai artistik sesuatu seni (Syarif, l984 : 115). Buat mereka, seni adalah otonom tidak bergantung pada yang di luar seni.

       Gauthier, utamanya, ia mengatakan bahwa seni bukan suatu cara, tetapi tujuan. Seorang seniman yang mengejar tujuan lain di luar keindahan adalah  bukan seniman (Syarif, l984 : 115). Sementara itu, Orcar Wilde memisahkan secara penuh antara lingkungan etika dan seni( Syarif, l984 : 1). Sebuah patung naturalis telanjang bulat yang dipasang di pusat keramaian, jia ini dipandang indah, tentu dilakukan dengan tanpa mermpertimbankan nilai etis. Jika peristiwa ini benar-benar ada, pasti menjadi heboh. Tokoh agama dan kaum moralis lainnya pasti memprotesnya, karena dipandang bertentangan dengan nilai moral. Beberapa tahun yang lalu, kasus pembuatan gambar-gambar bugil Dewi Sukarno Putri pada suatu majalah menjadi heboh. Tabloid yang pernah muncul penaka kecambah, beberapa diantaranya mengintrodusir gambar-gambar bugil atau hampir bugil atau secara umum seronok pada halaman sampulnya mendapat reaksi keras dari tokoh maupun lembaga-lembaga penjunjung tinggi moralitas. Goyang ngebor Inul Daratista, goyang patah-patah Anisa bahar, Goyang gergaji dari Dewi perssik dalam seni panggung menjadi heboh dan mendapat protes keras dari pendukung kaum moralis yang anti pornografi dan pornoaks atau sekurang-kurang erotisme. Karya ‘Taman Eden” yang menampilkan pose bugil Anjasmoro dan kawan-kawannya tidak luput dari hujatan keras dari kaum pendukung seni untuk sesuatu di luar seni.  Mulai Maret 2008 Pemerintah Republik tercinta ini (Indonesia), demi menjaga supaya  generasi mudatidak rusak parah moralitasnya menutup situs pornografi maupun pornoaksi dalam dunia internet, adalah sikap dan gerak nyata anti seboyan “seni untuk seni”

      Seni untuk seni yang produksi seninya dinilai seronok oleh masyarakat tidak akan menjadi masalah manakala semua orang mendukung paham itu. Mungkinkah ini bisa terjadi ? rasanya tidak mungkin atau  malah pasti tidak mungkin. Manusia tidak bisa diseragamkan dalam paham seni. Justru kebanyakan manusia tidak sadar akan dunia seni atau malah tidak menyadarkan diri akan dunia seni. Bagi mereka, sebagian berpendirian bahwa yang penting tuntutan ekonomi dasar (pangan, sandang, papan). Seni bagi kebanyakan orang adalah komoditas mewah. Orang-orang semacam ini biasanya dalam penghayatan agama juga terbatas pada aturan-aturan pokok kehidupan agama seperti pelaksanaan ritus dalam Islam. Agama, dalam kasus Islam dilihat melalui tolok ukur wajib-haram, sunnah-makruh, dosa-memperoleh pahala, ketika melihat patung naturalis bugil di pusat keramaian, tidak dipandang sebagai karya seni yang indah, melainkan dihukumi haram, dosa, dan membinatangkan manusia.

       Jadi, sebenarnya doktrin seni untuk seni bukanlah sesuatu yang ideal, justru ditentukan oleh persoalan-persoalan eksternal non seni, seperti etika jika harus dihadapkan dengan etika sebagai lawan seni.  Seni menjadi sesuatu yang menentang kodrat Ilahi. Tujuan utama keutusan para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah manusia justru mengenai etika.  Nabi dan Rasul terakhir Islam adalah Muhammad saw  (570:622) mengaku bahwa tugas pokoknya sebagaimana ia katakan adalah sebagai berikut: . . . بعثت لإتمم حسن  الاخلاق (رواه الليس عن مالك بن انس) ( Aku diutus hanyalah utuk menyempurnakan kebaikan akhlak. H.R. al-Laisi dari Malik bin Anas). Seni menjadi bagian integral dalam risalah kenabian Muhammadsaw.

       Suatu hal lain menjadi kelemahan doktrin seni untuk seni adalah menyaksikan alam semesta, yang menurut pandangan iman adalah refleksi karya Agung Sang Maha Pencipta, dipandang  sebagai sesuatu yang statis dan tidak bermakna karena lepas dari sensasi-sensai keindahan dari sang seniman. Flaubert si pendukung mazhab ini amat membenci kenyataan. Keindahan pegunungan Alpen tidak menimbulkan daya tarik baginya. Baudelaire menatap alam dalam penampakan keaslinya, ia pandang sebagai sesuatu yang monoton dan menjemukan. Menurutnya, seni harus berhubungan nilai absolut dan tertingi yaitu dipakai untuk menggantikan filsafat dan agama (Syarif, l984 : 116). Kalau sudah sampai tahap begini, seniman tidak bisa menjadi filosof dan agamawan, demikian sebaliknya. Tidak pula ia menjadi seniman yang berdoktrin “Seni untuk seni” secara setengah-setengah dan menjadi agamawan atau filosof setengah-setengah. Menjadi agamawan setengah-setengah adalah fasiq yang secara praktis adalah rusak. Bahkan, arti fasiq semula adalah sesuatu yang keluar dari kulitnya atau keluar dari perlindungan. Fasiq dalam arti agama berarti keluar dari ketaatannya pada Aallah (Anis,II : 687). Kalau agama seniman yang menjunjung tinggi doktrin “seni untuk seni” dan ia amat kuat dukungannya, sementara ia adalah seorang agamawan, boleh jadi ia kurang kesadarannya terhadap agamanya. Dalam kasus Islam, agama ini menuntut kepada pemeluknya supaya masuk ke dalam Islam secara total dan menyheluruh. Demikian seruan Alquran:

ياليهاالذين أمنوا ادخلوا فى السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين

(Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu. Q.S. al-Baqarah/2 : 228)

          Dalam ayat ini, dapat dipahami bahwa ketika seseorang memeluk agama Islam secara tidak totalitas, sisanya adalah pengikut langkah syetan. Dengan demikian seniman yang menjunjung tinggi doktrin “seni untuk seni” hingga tahap menepikan filsafat dan agama menurut pandangan Islam seni itu adalah seni syetan. Karen itu sebagai seorang agamawan – masih dalam taraf awam, dan belum mencapai tingkatan ulama – saya menghimbau kalau di tanah air ini ada seniman yang bermazhab secara berat “seni untuk seni” dan mereka ini memeluk agama, khususnya Islam, hendaklah anda bertaubat dan pindah kepada paham seni yang fungsionalis-religius.

      Seandainya harus dicari manfaatnya dari doktrin seni untuk seni sebenarnya masih ada, tetapi amat terbatas dan sifatnya terapiutik yang dalam hasanah Froedian termasuk orang-orang gila yang asyik dengan dunianya sendiri dan tidak hirau dengan dunia sekelingnya. Segi positif yang lain adalah karya ciptaannya selalu fres, orisinal, dan kreatif karena anti naturalisme.  .

Hubungan antara Teknologi dan Budaya dalam Kehidupan Manusia

     Teknologi merupakan perkembangan suatu media/alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien guna memproses serta mengendalikan suatu masalah. Perkembangan teknologi berlangsung secara evolutif. Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri.
    Oleh sebab itu, tepat momentumnya jika kita merenungkan masalah teknologi, menginventarisasi yang kita miliki, memperkirakan apa yang ingin kita capai dan bagaimana caranya memperoleh teknologi yang kita perlukan itu, serta mengamati betapa besar dampaknya terhadap transformasi budaya kita. Sebagian dari kita beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. padahal, kalau kita membaca sejarah, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri.
      Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Hubungan Teknologi dengan Kebudayaan

      Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik),


yaitu:

  • alat-alat produktif
  • senjata
  • wadah
  • alat-alat menyalakan api
  • makanan
  • pakaian
  • tempat berlindung dan perumahan
  • alat-alat transportasi

     Dengan semakin majunya perkembangan teknologi, maka hal tersebut akan berdampak pada perubahan kebudayaan. Dampak tersebut diantaranya adalah:

1. Perubahan Sosial Budaya
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Seiring dengan kemajuan teknologi, sebuah budaya dapat terpengaruh dan pada akhirnya terjadi perubahan budaya.

2. Penetrasi Kebudayaan

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dapat membuat masuknya kebudayaan lain.

Friday, May 31, 2013

penegertian nilai dan ekspresi

Secara umum kata “nilai” diartikan sebagai harga, kadar, mutu atau kualitas. Untuk mempunyai nilai maka sesuatu harus memiliki sifat-sifat yang penting yang bermutu atau berguna dalam kehidupan manusia (Purwadarminto, 1976:667). Dalam estetika, “nilai” diartikan sebagai keberhargaan (worth) dan kebaikan (goodness). Menurut Koentjaraningrat, “nilai” berarti suatu ide yang paling baik, yang menjunjung tinggi dan menjadi pedoman manusia/masyarakat dalam bertingkah laku, mengapresiasi cinta, keindahan, keadilan, dan sebagainya.

Nilai seni dipahami dalam pengertian kualitas yang terdapat dalam karya seni, baik kualitas yang bersifat kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Nilai-nilai yang dimiliki karya seni merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dihayati oleh seniman/seniwati dalam lingkungan sosial budaya masyarakat yang kemudian diekspresikan daam wujud karya seni dan dikomunikasikan kepada penikmatnya (publik seni).

Ragam Nilai Seni
Peran keindahan selalu terkait dengan kehidupan sosial budaya manusia sehari-hari, misalnya: dalam arsitektur rumah tinggal, menata interior/eksterior, berbusana, menikmati keindahan musik dan sebagainya. Manusia memerlukan keindahan karena memberikan kesenangan, kepuasan, sesuatu yang menyentuh perasaan. Perasaan keindahan diperoleh dari alam dan benda atau karya seni.

Namun dalam perkembangannya, karya seni dicptakan tidak selalu untuk menyenangkan perasaan manusia. Karya seni dapat memberikan perasaan terkejut, namun tetap memberikan nilai-nilai yang diperlukan manusia, seperti perenungan, pemikiran, ajakan, penyadaran, pencerahan, dan lain sebagainya.

Menurut The Liang Gie jenis nilai yang melekat pada seni mencakup: 1) nilai keindahan, 2) nilai pengetahuan, 3) nilai kehidupan, masing-masing mempunyai pengertian sebagai berikut :

a. Nilai keindahan dapat pula disebut nilai estetis, merupakan salah satu persoalan estetis yang menurut cakupan pengertiannya dapat dibedakan menurut luasnya pengertian, yakni: a) keindahan dalam arti luas (keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual), b) keindahan dalam arti estetis murni, b) keindhaan dalam arti estetis murni, c) keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya
dengan penglihatan pada prinsipnya mengkaji tentang hakikat keindahan dan kriteria keindahan yang terdapat di alam, dalam karya seni dan benda-benda lainnya.

b. Dalam kecenderungan perkembangan seni dewasa ini, keindahan positif tidak lagi menjadi tujuan yang paling penting dalam berkesenian. Sebagian seniman beranggapan lebih penting menggoncang publik dengna nilai estetis legatif (ugliness) daripada menyenangkan atau memuaskan mereka (T.L. Gie, 1976:40). Fenomena semacam ini akan kita jumpai pada karya-karya seni primitir atau karya seni lainnya yang tidak mementingkan keidahan tampilan visual namun lebih mementingkan makna simboliknya. “Ugliness” dalam karya seni termasuk nilai estetis yang negatif. Jadi sesungguhnya dalam karya seni terdapat nilai estetis yang positif dan negatif. Contoh, pameran fotografi Anjasmara dan Isabele Yahya yang bertemakan Adam dan Hawa yang dinilai sebagai kesenian yang bernilai estetis negatif.

Pengertian Ekspresi
Ekspresi adalah proses ungkapan emosi atau perasaan di dalam proses penciptaan karya seni, proses ekspresi bisa diaktualisasikan melalui media. Media musik bunyi; media seni rupa adalah garis, bidang dan warna; media tari adalah gerak, media teaer adalah gerak, suara dan lakon.

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com